Salah satu tujuan pembelajaran
matematika di sekolah adalah siswa mampu melakukan representasi dalam
penyelesaian masalah. Dienes (dalam Suryadi :2008) berpandangan bahwa belajar
matematika itu mencakup lima tahapan yaitu bermain bebas, generalisasi, representasi,
simbolisasi, dan formalisasi. Pada tahap bermain bebas anak biasanya
berinteraksi langsung dengan benda – benda kongkrit sebagai bagian dari
aktivitas belajarnya. Pada tahap generalisasi anak sudah memiliki kemampuan
untuk mengobservasi pola, keteraturan, dan sifat yang dimiliki bersama. Pada
tahap representasi , anak memiliki kemampuan untuk melakukan proses berpikir
dengan menggunakan representasi objek – objek tertentu dalam bentuk gambar atau
turus. Tahap simbolisasi anak sudah memiliki kemampuan untuk menggunakan simbol
– simbol matematika dalam proses berpikirnya. Sedangkan formalisasi , adalah
suatu tahap di mana anak sudah memiliki kemampuan untuk memandang matematika
sebagai suatu sistem yang terstruktur.
Penelitian (Barmby,2013) telah menujukkan
pentingnya representasi baik bagi guru ataupun siswa dalam pengajaran dan
pembelajaran matematika. Representasi secara umum menjadi bagian penting bagi
pembelajaran matematika seorang guru dan siswa dalam memainkan penjelasan
tentang ide – ide matematika.
““Skilled teachers have a repertoire
of such representations available
for use when needed to elaborate their
instruction in response to
student comments or questions or to
provide alternative
explanations for students who were
unable to follow the initial
instruction”
(Brophy dalam Barmby,2013 )
Demikian pula, menurut Barmby (2013),
representasi ekternal mendukung segala proses penjelasan ide matematika.
Kemampuan siswa dalam menyusun beragam representasi merupakan aspek yang
penting dalam pemahaman matematika. Representasi memungkinkan siswa
menguhubungkan antara pengalaman nyata dengan konsep matematika. Pemaknaan dari
representasi sangat mungkin berbeda antara seorang guru dengan beragam siswa.
Oleh karenanya, jika representasi tersebut digunakan di dalam kelas, maka guru
butuh mendukung dan memfasislitasi siswa dalam menafsirkan atau memaknai
representasi agar seperti yang diharapkan. Penelitian Sowell dan Gersten (dalam
Barmby,2012) menunjukkan efektivitas representasi eksternal dalam pembelajaran
di ruangan kelas.
Kalathil (2000) menyebutkan bahwa
representasi memberikan keuntungan bagi siswa dalam belajar, konstruksi mental
dapat dimanipulasi sehingga bisa digunakan sebagai informasi yang dapat dibagi,
serta menambah perhatian siswa dalam proses berpikir.
Selain itu, representasi (dalam
Debrenti, 2015) berkontribusi di dalam menambah ingatan dan pemahaman terhadap
suatu masalah. Kalimat yang menggambarkan efektifitas pembelajar dalam
penyelesaian masalah sebagaimana disebutkan Goldman (dalam Jitendra, 2002): “to create a representation that mediates
solution”. Guler (2011) menyebutkan pentingnya representasi matematika
diantaranya :
a.
representasi memperkuat metode pembelajaran
dan menambah keberhasilan mendapatkan informasi dari berbagai sumber referensi;
b.
menjadi pertimbangan dalam efisiensi proses
pembelajaran terutama dalam penyelesaian masalah
c.
memberikan panduan yang signifikan dalam
pemahaman masalah, pemandu dalam metode pemecahan masalah dan memberikan
pengaruh mental dalam keteraturan penyelesaian masalah.
Begitu pentingnya representasi yang
dilkukan oleh guru di ruangan kelas untuk mewujudkan tujuan pembelajaran
matematika, maka rumusalan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana
menghubungkan ide dan pengalaman nyata dengan representasi matematika.
Menurut Bayazit (2011) representasi
secara tradisional dipahami sebagai sesuatu yang berdiri pada sesuatu yang
lain. Seperti halnya pada simbol yang memainkan peran penting dalam pengajaran
dan pembelajaran matematika. Representasi memungkinkan komunikasi gagasan
matematika kepada peserta didik secara koheren dan konsisten dan memberikan
bahasa umum yang digunakan oleh anggota komunitas belajar-mengajar untuk
mengekspresikan pemikiran mereka, berbagi gagasan mereka dengan yang lain, dan
untuk mencerminkan secara kolektif mengenai gagasan matematika. Oleh karena
itu, representasi dapat mengurangi beban kognitif pada pikiran manusia dan
meningkatkan kapasitasnya untuk mencapai dan melestarikan sebagian besar
informasi dalam ruang yang relatif kecil.
Selain peran dalam menyimpan ide
matematika (dalam Bayazit, 2011), representasi memberi bantuan kepada individu
dalam pemikiran mereka. Misalnya, gambaran sebuah lingkaran tidak hanya
menyimpan beberapa aspek lingkaran (jari – jari, diameter, tali busur, dll) ,
namun juga digunakan sebagai alat kognitif untuk memikirkan tentang esensi dan
sifat – sifat dari sebuah konsep. Oleh karena itu, gambaran dari sebuah ide
matematika tidak dapat dipisahkan dari konsep itu sendiri; dan itu harus
dianggap sebagai bagian penting dari pemikiran.
Dalam literatur, menurut Bayazit
(2011) representasi dibagi menjadi dua kategori utama: representasi eksternal
dan representasi internal. Representasi eksternal mengacu pada konstruksi fisik
(mis., aljabar, grafik, atau diagram yang ditulis atau sketsa yang ditampilkan
di atas kertas) yang digunakan guru untuk menggambarkan gagasan matematika
kepada para siswa. Mereka diucapkan, ditulis atau semacam entitas yang
terlihat. Misalnya, kurva pada kertas akan menjadi representasi fungsi bagi
seseorang. Representasi internal adalah konstruksi mental yang dikembangkan
individu melalui interaksi dan refleksi mereka terhadap representasi eksternal.
Mereka adalah produk dari pikiran manusia. Dengan demikian representasi
internal individu dari konsep matematika bisa berbeda dari yang lainnya.
Dari pemaparan di atas, representasi
matematika merupakan perwujudan sebuah ide dari pengalaman nyata yang dapat
disajikan dalam bentuk sketsa, grafik, diagram, tabel, gambar, ataupun
pemodelan yang dapat dinterpretasikan sejalan dengan konsep.
Lebih jelasnya hubungan antara
representasi dengan ide matematika yang dikaitkan dengan pengalaman nyata di
sajikan dalam gambar berikut :
Gambar 1.
Koneksi antara representasi dengan ide matematika
Masalah matematika yang didapatkan
dari pengalaman nyata dapat menjadi ide matematika yang digambarkan dalam
dimensi eksternal representasi. Selanjutnya kontruksi mental terkait pengolahan
informasi yang didapatkan dari ekternal representasi akan menjadi internal
representasi. Internal representasi dapat direfleksikan kembali ke dalam ide
matematika dan pengalaman nyata apakah sesuai, cocok, ataukan perlu
penyempurnaan. Representasi dapat dilakukan dengan membuat sketsa, grafik, diagram,
tabel, gambar (picture) ataupun
pemodelan yang lain.
Kalathil (2000) menyebutkan bahwa
representasi dapat terwujud dengan dua jalan, yaitu guru membantu siswa
menuangkan ide – idenya dan menjadikan representasi sebagai objek dalam
diskusi.
Perhatikan contoh 1 berikut :
Panjang
tol Bogor – Jakarta 60 km. Pada pukul 12.00 mobil A berangkat dari pintu tol
Bogor menuju Jakarta dengan kecepatan rata – rata 80 km/jam. Pada saat yang
sama mobil B berangkat dari pintu tol Jakarta menuju Bogor dengan kecepatan
rata – rata 70 km/jam. Kedua mobil tersebut akan berpapasan pada pukul ...
Permasalahan matematika di atas yang
berangkat dari permasalahan nyata dapat dipadukan dengan ide matematika yaitu
jarak, kecepatan, dan waktu. Ide matematika tersebut tidak dapat ditangkap
dengan baik oleh ingatan, tanpa menggunakan representasi.
Salah satu bentuk representasi
disajikan berikut :
Gambar 2.
Representasi Sketsa
Membuat sketsa dapat dengan mudah
diinterpretasikan untuk menemukan solusi, semisal ; Sa menyatakan jarak tempuh
mobil A sampai berpapasan dengan mobil B, Sb menyatakan jarak tempuh mobil B
sampai berpapasan dengan mobil A, Va menyatakan kecepatan mobil A dan Vb
menyatakan kecepatan mobil B. Dengan perhitungan sederhana dapat ditemukan
bahwa mereka berpapasan pada pukul 12.24.
Perhatikan contoh 2 berikut :
Suatu
garis lurus memotong sumbu X di titik A(a,0) dan memotong sumbu Y di titik
B(0,b) dengan a dan b adalah bilangan bulat. Jika luas segitiga OAB adalah 12
satuan luas, maka banyaknya pasangan bilangan bulat a dan b yang mungkin adalah
...
Ide matematika yang didapatkan dari
contoh 2 di atas adalah menghitung luas segitiga yang dihubungkan dengan
pemfaktoran bilangan tertentu. Pengalaman nyata penghitungan luas segitiga
dihitung dengan ½ x alas x tinggi dan pemfaktoran suatu bilangan tidaklah
sulit. Namun ketika kedua ide tersebut dihubungkan, maka bukan hal yang mudah
untuk menyelesaikannya. Penggunaan representasi berupa grafik diperlukan
seperti di bawah ini :
Gambar 3.
Representasi Grafik
Interpretasi dari grafik di atas
menjelaskan bahwa segitiga yang terbentuk adalah segitiga siku – siku dengan
panjang alas = a dan tinggi =b. Luas yang terbentuk adalah L = ½ ab. Dengan
memperhatikan formula luas, maka bahwa a dan b adalah faktor dari 24 yaitu :1,2,3,4,6,8,12,24 karena itu banyak pasangan yang mungkin adalah
8 pasang.
Perhatikan contoh 3 berikut :
Dari
sebuah kelas yang berjumlah 30 siswa, diketahui 17 siswa gemar karate, 11 siswa
gemar renang, 5 siswa gemar karate dan renang. Banyaknya siswa yang tidak gemar
karate maupun renang adalah ....
Ide matematika berupa masalah yang
berkaitan dengan himpunan yang didapatkan dari pengalaman nyata. Representasi
diagram venn dapat dituliskan seperti di bawah ini :
Gambar 4.
Representasi Diagram
Interpretasi (bentuk representasi
eksternal) dari diagram di atas adalah jika K menyatakan banyaknya siswa yang
gemar karate dan R menyatakan banyaknya siswa yang gemar renang. Maka dapat
dicari solusi permalahan di atas.
Perhatikan contoh 4 berikut :
Salah satu penyelesaian dari x1+x2+x3+x4=7. Jika semesta pada persamaan ini adalah himpunan semua bilangan bulat tidak negatif, banyaknya penyelesaian yang mungkin dari x1+x2+x3+x4=7 adalah ...
Ide matematika yang dapat dijelaskan
dari permasalahan di atas adalah mencari semua bulangan bulat tidak negatif
yang bila dijumlahkan sebanyak 4 kali akan diperoleh 7, semisal 2 + 0 + 4 + 1.
Yang jadi masalah adalah bilangan yang dijumlahkan bisa sama, maka di sini
dapat dibentuk permutasi n suku dengan a yang sama. Nilai a menyatakan unsur
bilangan penyusun.
Representasi dapat dilakukan dengan
membentuk tabel sebagai berikut :
Tabel 1. Representasi
Tabel
Gambar 5. Representasi Tabel
Interpretasi dari penyusunan permutasi
membutuhkan ketelitian sehingga dengan melanjutkan isian tabel di atas,
didapatkan banyak penyelesaian yang mungkin adalah 120 cara.
Perhatikan contoh 5 berikut :
Diketahui
kubus ABCD.EFGH dengan rusuk a cm. Jika α adalah sudut antara CE dan bidang
BDE, cos α = ….
Ide matematika yang bisa diambil
adalah penggambaran bentuk dimensi 3 di atas dalam bidang datar, selanjutnya
menarik garis dan membentuk bidang. Penggunaan representasi dapat membantu
kemudahan penyelesaian masalah di atas. Representasinya dari persamasalahan di
atas disajikan dalam gambar berikut :
Gambar 6.
Representasi Gambar
Representasi internal dilakukan dengan
menjelaskan manakah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu dan formula
apakah yang diperlukan untuk mengatasi permasalahan di atas.
Representasi pemodelan dapat dilakukan
dalam bentuk benda 2 dimensi, 3 dimensi , ataupun menggunakan siswa model dalam
proses pembelajaran semisal menghitung tinggi tiang bendera. Siswa model diukur
tingginya beserta bayangannya dan mengukur tinggi bayangan tiang bendera.
Pemodelan selain dalam bentuk kongkret dapat juga dilakukan dengan
pengabstrakan semisal menghitung banyaknya diagonal bidang pada bangun ruang.
Demikianlah
penjelasan tentang representasi matematika.
Referensi :
Barmby, Patrick, dkk.(2013). Developing the Use of Visual Representations
in the
Primary Classroom. [online].
Tersedia : http://www.nuffieldfoundation.org/sites
. Diakses 20 Juli 2017.
Bayazit, Ibrahim & Aksoy, Yilmaz.(2011).Connecting Representations and
Mathematical Ideas with Geogebra.
[online]. Tersedia : https://ggijro.files.wordpress.com/2011/07/article-8.pdf . Diakses
tanggal 15 Juli 2017.
Debrenti,
Edith.(2015). Visual Representation in
Mathematics Teaching:An
Experiment With Students. Jurnal :
Acta Didactica Napocensia.
Guler, Gursel. (2011). The Visual Representation Usage Levels of Mathematics
Teachers and Students in Solving Verbal
Problems. Jurnal :International
Journal of Humanities and Social Science (IJHSS).
Jitendra, Asha.(2002).Teaching Students Math Proble-Solving Through Graphic
Representation.
[online]. Tersedia : www.webmail.teachingld.net/pdf/teaching_how-tos/journal_articles/ Diakses tanggal 20 Juli 2017.
Kalathil, R.R., & Sherin, M.G. (2000). Role of Students' Representations in the
Mathematics Classroom. In B. Fishman & S.
O'Connor-Divelbiss (Eds.), Fourth International Conference of the
Learning Sciences (pp. 27-28). Mahwah, NJ: Erlbaum.
Suryadi, Didi.(2008). Eksplorasi Matematika
Pembelajaran Pemecahan Masalah.
Bekasi :
Karya Duta Wahana.










0 comments:
Post a Comment