Sungguh
kebahagiaan seorang guru manakala anak didiknya berhasil dalam proses
pembelajaran, baik secara intelegensi ataupun moral. Tidak dipungkiri bahwa
peningkatan intelegensi hendaknya dibarengi dengan tingat moralitas. Semua
sepakat akan hal ini, termasuk koruptor hingga penjahat berat sekalipun.
Betapa
memprihatinkan pendidikan saat ini, di mana pendidikan di Indonesia khususnya
telah menelurkan siswa yang berprestasi namun tidak dibarengi dengan tingkat
moralitas yang baik. Pendidikan karakter yang digembor – gemborkan akhirnya hanyalah
sekadar proyek.
Berikut ini
penulis bawakan hal – hal apa saja yang menjadikan peserta didik ini akan
sukses dalam hal karakter.
Pertama, guru memiliki ilmu
mendidik anak.
Mendidik membutuhkan ilmu, meskipun tidak harus
melebihi ilmu mereka di bidang kompetensi yang diajarkan. Ambil contoh,
seorang guru matematika, ia harus memiliki ilmu bagaimana mendidik anak.
Artinya, ia tidaklah
harus mahir di bidang matematika saja, namun dia juga harus mampu dan memiliki
ilmu lain di bidang pendidikan moralitas anak. Sayangnya hal ini kurang
diperhatikan oleh sebagian guru.
Seakan
kewajiban mendidik hanyalah tanggung jawab guru agama, PKn, BK, ataupun wali
kelas. Padahal sejatinya tidaklah demikian. Oleh karenanya seorang guru harus
terus belajar. Dia tidak hanya mencukupkan pada kompetensi semata. Banyak rumus
matematika yang memiliki fiolosofi dalam membelajarkan dan mendidik siswa.
Kedua, keteladanan guru.
Siswa akan
masuk sekolah tepat waktu, karena melihat gurunya tidak terlambat masuk
sekolah. Siswa akan rajin membaca buku di perpustakaan, karena dia melihat
gurunya asyik menelaah buku – buku perpustakaan.
Siswa akan senang
teknologi, karena gurunya membelajarkan siswanya dengan LCD. Demikian pula,
siswa tidak akan merokok dan mengebut di jalan, karena gurunya tidak merokok di
kelas.
Terlebih
lagi, siswa akan belajar adab dari gurunya, karena dia melihat sesosok guru yang
arif, lembut, dan penuh kewibawaan.
Ketiga, keikhlasan dalam
mendidik dan mengajar.
Pernahkah
kita menyampaikan kepada siswa untuk bersikap baik ? Tentu sudah. Tapi dari
sekian yang kita ucapkan kepada siswa, berapa persenkah yang mereka merespon
atau ucapan kita dapat masuk di relung jiwa para siswa ? Ingatlah dan yakinlah,
bahwa semakin kita ikhlas dalam mengajar dan mendidik, ucapan kita menjadi
semakin berbobot.
Ya, berbobot
di mata, telinga, dan hati siswa. Ucapan kita laksana mutiara padahal itu adalah
ajakan dan larangan.
Keempat, kesungguhan dan
kekontinuan dalam mendidik.
Guru harus
penuh kesungguhan dalam mengarahkan anak didiknya agar berhasil. Hindari sifat
lemah dan keputusasaan. Siswa yang tidak mempan dididik sekali, maka ulangi
terus, sampai waktu berpisah dengan anak didik kita.
Sesorang yang
dipukul tidak akan terasa sakit jika hanya dipukul dengan lembek ataupun sekali
pukulan. Oleh karena itu didikan kita harus dipersiapkan sehingga akan terasa
kuat di benak para siswa.






0 comments:
Post a Comment