Tulisan ini mengetengahkan bagaimana seorang guru hendaknya terlebih dahulu mengajarkan sikap kepada anak didiknya. Meski demikian, renungan ini kami berikan kepada guru yang menjalani profesi guru di sekolah agar lebih bermakna.
Kewajiban utama seorang guru yang profesional selain
mengajar adalah mendidik. Hal ini yang sering dilupakan oleh sebagian guru.
Mendidik dalam arti luas maupun dalam arti sempit.
Mendidik dalam arti luas seperti mendidik siswa –
siswanya dalam menghadapi lingkungan di luar sekolah maupun mempersiapkan bekal
nilai – nilai sosial, etika, dan kearifan akhlak mulia sebagai bangsa yang
menjunjung tinggi budaya di kemudian hari.
Mendidik dalam arti sempit seperti sikap kesehariaan
siswa di dalam ruang kelas, saat jam kosong, maupun interaksi siswa dengan
warga sekolah di lingkungan sekolah. Bukankah para siswa dikatakan sebagai
peserta didik ? Ya, dikatakan peserta didik karena mereka berhak dan wajib
mendapatkan didikan oleh guru – guru mereka.
Seandainya fungsi mendidik sudah dijalankan, lantas
mengapa masih banyak para siswa yang berani sama gurunya, banyak siswa
mencontek, kedisiplinan pakaian kurang, mencorat – coret tembok, kesopanan
terhadap orang yang lebih tua mengalami penurunan, bahkan tawuran antar pelajar kita saksikan
setiap minggunya ?
Tidakkah kita lihat di setiap jalan utama hampir semua
rumah mendapatkan aksi coret tembok, siapa lagi pelakunya kalau bukan para
siswa sekolah ? Nongkrong tiap malam, bahkan di setiap acara hiburan malam perkelahian
antar pemuda yang nota bene para peserta didik yang melakukannya.
Yang lebih nyata lagi, tiap pagi kita saksikan para
pelajar dengan tanpa helm menunjukkan aksi ngebutnya. Ya, itu adalah sebagian
sikap jelek yang tidak boleh dimiliki oleh peserta didik.
Dilematis tentunya bila guru mendapatkan tempat
mengajar yang memiliki siswa dengan tradisi sikap jelek demikian. Di sekolah
tersebut, sebagian guru yang telah menjalankan tugasnya mendidik, bisa
dikatakan hampir seluruh waktunya habis untuk memberikan didikan, nasehat,
ataupun omelan – omelan kepada para siswanya yang berakibat jam memberikan
materi terkuras habis. Ingatlah wahai guru profesional !
Janganlah berhenti total atau bahkan bosan menasehati,
membimbing, mengarahkan siswa – siswa kalian lantaran tidak adanya perubahan
sikap.
Seandainya dikatakan oleh teman Anda, apa yang sudah
Anda lakukan tidak ada manfaatnya, maka jangan hiraukan dan tetaplah bersabar.
Selalu cari metode – metode yang bijak dari teman – teman guru yang lain.
Sebaliknya, di sekolah yang memiliki input siswa
dengan nilai yang tergolong tinggi, mampukah kita mendesain pembelajaran yang
berbasis sikap (afektif) dengan mengutamakan nilai kejujuran, tanggungjawab,
kedisiplinan, menghargai pendapat orang lain, mengutamakan dan mendahulukan
orang lain, kerja sama, komitmen tugas dan janji, keberanian dan ketegasan di
atas kebenaran, kesopanan, kebersihan, dan lain – lain ?
Bagi penulis mengajari sikap sehingga mereka memiliki
karakter sikap yang baik untuk waktu sekarang maupun untuk masa datang jauh
lebih baik dari pada membekali siswa dengan kompetensi – kompetensi yang belum
tentu peserta didik pakai. Ingat pula tidak semua siswa memiliki kecerdasan
yang bagus sehingga dapat menangkap materi pelajaran dengan baik.
Tidak semua siswa harus diajar untuk menjadi seorang
dokter, ilmuwan, profesor, atau pejabat. Kelak para siswa harus siap untuk
menjadi pekerja yang di mata masyarakat dikatakan sebagai pekerjaan rendahan.
Namun memiliki sikap yang baik harus dimiliki dan
dipunyai oleh semua orang, lintas profesi, lintas daerah, dan lintas apapun.
Oleh karenanya perhatikan masalah pendidikan sikap ini sebelum yang lain.
Hingga jadilah kelas, sekolah, lingkungan, bahkan
bangsa ini kelak menjadi bangsa yang bermartabat. Bangsa yang terkenal
keramahannya dan budi pekerti yang luhur. Mengapa ? Karena guru profesional
mendahulukan mendidik sikap sebelum mengajarkan ilmunya.
Oleh : Tundung Memolo






0 comments:
Post a Comment