Cegah Corona

Stay at Home, Pakai Masker, Jaga Jarak, Cuci Tangan Selalu

My Blog List

Penerapan Gamification Untuk Meningkatkan Karakter Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Matematika Di Sekolah Dasar Oleh Abdul Mu’in

Pendidikan di Indonesia masih menyisakan banyak permasalahan. Salah satu permasalahan

tersebut adalah masih rendahnya karakter peserta didik. 

Berbagai media sosial sering menginformasikan bahwa: 

(1) sering terjadi tawuran antar pelajar, 

(2) terjadi banyak kecurangan pada ujian nasional, 

(3) pola hidup tidak sehat yaitu merokok dan narkotika, dan

(4) pada saat lulus dari sekolah, masih terdapat peserta didik yang meluapkan kegembiraannya

dengan cara negatif seperti corat-coret baju seragam, konvoi, dan merusak fasilitas umum.

Kondisi di sekolah pun tidak jauh berbeda. 


Beberapa peserta didik yang tidak mau berangkat

sekolah karena diganggu, diancam, bahkan ada yang dimintai uang sakunnya. Sering juga

dijumpai adanya kata-kata kotor dan sumpah serapah yang ditujukan kepada temannya. Dewasa

ini, rasa hormat peserta didik kepada guru juga sudah mulai pudar. Kejujuran, kedisiplinan,

tata krama, toleransi dan nilai-nilai karakter yang lain sudah mulai hilang dari diri perserta

didik.


Beberapa hal tersebut di atas harus menjadi keprihatinan bersama, khususnya bagi seorang

pendidik. Pemerintah, lingkungan masyarakat, dan sekolah harus bersinergi untuk mengatasi

masalah tersebut. 

Pemerintah saat ini sudah mengeluarkan Perpres Nomor 87 tahun 2017

tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). PPK bertujuan untuk memperkuat karakter

peserta didik melalui: 

(1) olah hati (etik), individu yang memiliki kerohanian yang mendalam,

(2) olah rasa (etetika), individu yang memiliki integritas moral, rasa berkesenian, dan

berkebudayaan, 

(3) olah pikir (literasi), individu yang memiliki keunggulan akademis sebagai

hasil pembelajaran dan pembelajar sepanjang hayat, dan 

(4) olah raga (kinestetik), individu

yang sehat dan mampu berpartisipasi aktif sebagai warga negara. 

Pendidikan karakter tersebut dilaksanakan di satuan pendidikan, keluarga dan masyarakat.


Penguatan pendidikan karakter di satuan pendidikan terintegrasi dalam intrakurikuler,

kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Mata pelajara yang punya tanggung jawab memperkuat

karakter peserta didik bukan hanya Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan

melainkan semua mata pelajaran memiliki kewajiban untuk menanamkan dan membiasakan

karakter kepada peserta didik. Pelaksanaan pendidikan karakter dilaksanakan secara terus

menerus dan berkesinambungan.


Kata karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan

memfokuskan, bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah

laku (Dianti, 2014 hlm 58). 


Tingkah laku seseorang dalam kehidupan sehari-hari merupakan

cerminan dari karakter orang tersebut. Apabila tingkah lakunya baik berarti karakter orang

tersebut baik. 

Demikian juga sebaliknya, bila tingkah lakunya buruk berarti karakter orang

tersebut juga buruk. Karakter seseorang dapat dibentuk melalui pendidikan yang dilaksanakan

secara berkelanjutan.


Battistich, dkk (2000, hlm 3) mendefnisikan pendidikan karakter “as the deliberate

use of all dimensions of school life to foster optimal character development”. Pendidikan

karakter didefnisikan sebagai penggunaan yang disengaja dari semua dimensi kehidupan

sekolah untuk mendorong pengembangan karakter yang optimal. Pendekatan komprehensif

terhadap pendidikan karakter ini memanfaatkan setiap aspek sekolah, kurikulum, proses

pengajaran, hubungan yang baik antar anggota sekolah, penanganan disiplin, pelaksanaan

kegiatan kokurikuler dan kinerja dari keseluruhan lingkungan sekolah hingga menumbuhkan

karakter yang baik bagi semua anggota sekolah.


Tujuan pendidikan karakter pada dasarnya adalah menjadikan peserta didik yang baik,

pengertian, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika inti (seperti ketekunan,

kasih sayang, integritas, dan keadilan) yang membuat sesuatu menjadi produktif, adil, dan

masyarakat demokratis. 


Seiring bertambahnya karakter, peserta didik tumbuh dalam kapasitas

dan komitmen untuk melakukan pekerjaan terbaik mereka dan melakukan hal yang benar.

Pendidikan karakter yang efektif akan menciptakan lingkungan kelas dan sekolah yang

memungkinkan semua peserta didik untuk mewujudkan potensi mereka dalam mencapai 

tujuan hidupnya.


Ada beberapa teori perkembangan moral yang dapat kita digunakan dalam pendidikan karakter

di sekolah. Menurut pendekatan perkembangan kognitif, terdapat dua tokoh penting adalah

yaitu Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg. Mereka berdua memberikan gambaran lengkap

tentang bagaimana mewujudkan tahap moral. 


Piaget (1965) mengemukakan bahwa “moral

development is formed and fostered by social interaction”. Melalui interaksi dengan orang lain,

peserta didik memiliki kesempatan untuk menemukan jati diri melalui pemecahan masalah

dan eksplorasi norma kelompok dan masyarakat. 


Kelompok ini akan memberi kesempatan

bagi peserta didik untuk menyelesaikan tugas dan memberi peluang bagi peserta didik untuk

belajar dari orang lain.


Kohlberg (1972) menjelaskan secara rinci model pengembangan moral Piaget, bahwa “moral

stages are a sequence”. Peserta didik di sekolah dasar berada di tahap prakonvensional.

Mereka tahu benar dan salah dengan imbalan dan hukuman. Berikut merupakan tahapan moral

menurut kohlberg.

Terdapat 18 Nilai-nilai pendidikan karakter yang dikembangkan dalam sistem pendidikan

di Indonesia, yaitu: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6)

Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11)

Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai,

(15) Gemar Membaca, (16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, & (18) Tanggung Jawab

(Puskurbuk, 2010). Selanjutnya, kedelapan belas nilai tersebut masing-masing dijelaskan oleh

Suhardi (2017,hlm. 38-39) dalam bentuk deskripsi dalam tabel berikut.


Tabel 1. Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

ASPEK NILAI DESKRIPSI ASPEK NILAI

1. Religius 

Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran

agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah

agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.


2. Jujur 

Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya

sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan,

tindakan, dan pekerjaan.


3. Toleransi 

Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama,

suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang

berbeda dari dirinya.


4. Disiplin 

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.


5. Kerja Keras 

Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam

mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta

menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.


6. Kreatif 

Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara

atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.


7. Mandiri 

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang

lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.


8. Demokratis 

Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak

dan kewajiban dirinya dan orang lain.


9. Rasa Ingin Tahu 

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui

lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya,

dilihat, dan didengar.


10. Semangat Kebangsaan 

Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan

kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan

kelompoknya.


11. Cinta Tanah Air 

Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan

kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap

bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan

politik bangsa.


12. Menghargai 

Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk

menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan

mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.


13. Bersahabat/Komuniktif 

Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara,

bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.


14. Cinta Damai 

Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang

lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.


15. Gemar Membaca 

Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai

bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.


16. Peduli Lingkungan 

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan

pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan

upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah

terjadi.


17. Peduli Sosial 

Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada

orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.


18. Tanggung-jawab 

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan

kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri

sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya),

negara dan Tuhan Yang Maha Esa.


Berdasarkan tabel di atas, beberapa nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui

pembelajaran matematika diantaranya, yaitu: (1) jujur, (2) disiplin, (3) kerja keras, (4) kreatif,

dan (5) rasa ingin tahu. Penanaman dan pembiasaan karakter pada peserta didik dalam

pelajaran matematika dapat dilakukan salah satunya melalui penerapan gamifcation. 


Hal ini dikarenakan Setiap orang baik umum anak-anak dan remaja, maupun orang tua menyenangi

permainan. Pada akhir tahun 2010 sebuah game di facebook, Farm-ville telah dimainkan oleh

lebih dari 60 juta pengguna di seluruh dunia atau sekitar 1% dari populasi dunia dengan rata-

rata waktu yang digunakan untuk bermain 70 menit setiap minggunya (Hurley, 2000).


Menurut Park dan Bae (2014, hlm. 20) istilah “gamifcation” diciptakan pada tahun 2002 oleh

Nick Pelling, seorang pemrogram komputer dan penemu kelahiran Inggris, namun tidak populer

sampai 2010. Pada tahun tersebut istilah “gamifcation” mulai digunakan secara luas dalam

pengertian yang lebih spesifk mengacu pada penggabungan aspek sosial. 


Konsep gamifcation

mencoba menerapkan elemen game pada wilayah bukan game untuk meningkatkan pengalaman

dan keterlibatan pengguna (Yukawa, 2005). Hal senada disampaikan oleh Deterding, dkk

(2011, hlm. 9) yang menidefnisikan Gamifcation “as the use of game design elements in

non-game contexts”. 

Pendekatan ini tergolong baru yang berkembang dengan pesat. Pada

awalnya gamifcaton digunakan dalam ilmu militer dan bisnis. Pada perkembangannya

gamifcation juga mulai diterapkan pada dunia pendidikan. 

Penerapan gamifcation terbukti

dapat meningkatkan aktivitas dan motivasi peserta didik (Dicheva,D, dkk, 2015 hlm. 75)


Gamifcation berusaha untuk memanfaatkan keinginan alami peserta didik untuk bersaing,

prestasi, status, dan ekspresi diri. Inti dari gamifcation adalah penghargaan bagi peserta didik

yang melakukan tugas yang diinginkan. Jenis penghargaan meliputi pemberian poin, lencana

pencapaian, atau tingkat pencapaian. 


Imbalan untuk menyelesaikan tugas yang terlihat oleh

peserta didik lain atau memberikan papan pemimpin adalah cara mendorong peserta didik

untuk bersaing. Pendekatan lain untuk gamifcation adalah memberikan sanksi bagi peserta

didik yang tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik. Sanksi dapat berupa pengambilan

penghargaan yang dimilikinya serta penggurangan poin yang dimilikinya.


Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah: (1) apakah penerapan

gamifcation pada pembelajaran matematika dapat meningkatkan karakter peserta didik?, dan

(2) berapa besar peningkatan karakter peserta didik setelah penerapan gamifcation pada mata

pelajaran matematika?


Sumber Pustaka :

---------, 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Balitbang, Puskur,

Kemendiknas.

Arif, I. 2015. Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi Bebas Menggunakan Kartu Kata pada Siswa

Kelas V SDN Dadaprejo 02 Kecamatan Junrejo Kota Batu. Makalah Simposium Guru dan Tenaga

Kependidikan Tingkat Nasional Tahun 2015.

Battistich, V., dkk. 2000. Effects of the Child Development Project on students’ drug use and other

problem behaviors. Journal of Primary Prevention, 21, 75-99

Deterding, dkk. 2011. From game design elements to gamefulness: Defining “gamification”. Jurnal

MindTrek 2011 (pp. 9-15). doi: 10.1145/2181037.2181040.

Dianti, P. 2014. Integrasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Kewarganegaraan untuk

Mengembangkan Karakter Siswa. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Volume 23, No. 1, Edisi Juni

2014

Dicheva, D, Dkk. 2015. Gamification in Education: A Systematic Mapping Study. Jurnal Educational

Technology & Society, 18 (3), 75–88.

Hurley, P. J. 2000. A concise introduction tologic. Belmont, CA: Wadsworth.

Kohlberg, L. 1972. A cognitive-developmental approach to moral education. The Humanist, 32, 13–16.

Park, H.J dan Bae, J.H. 2014. Study and Research of Gamifcation Desingn. International Journal of

Software Engineering and Its Applications Vol.8, No.8 (2014), pp. 19-28.

Piaget, J. 1965. The moral judgment of the child. New York: The Free Press.

Republik Indonesia. 2017. Perpres No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.

Kementrian Sekretariat Negara RI. Jakarta.

Suhardi. 2017. Penguatan Pendidikan di Sekolah. Prosiding Seminar Nasional. (p. 35-48).

Yukawa, J. 2005. Story-lines: A case study of online learning using narrative analysis. Proceedingsof

the 2005 Conference on Computer Support for Collaborative Learning: Learning 2005: The Next

10 Years! (p. 736).

0 comments: